Senin, 05 Mei 2014

Kasau Kunjungi Satbravo 90 Paskhas

 Kasau Kunjungi Satbravo 90 Paskhas 
PASKHAS (5/5),- Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia  didampingi Asops Kasau Marsda TNI Bagus Puruhito, Dankorpaskhas Marsda TNI Harpin Ondeh Waaspers Kasau Marsma TNI Sugiharjo, Kadispenau Marsma TNI Hadi Tjahjanto dan Pejabat lainnya melakukan kunjungan kerja ke Satuan Bravo 90 Paskhas, di Detasemen Rumpin, Bogor,  Jumat (2/5).
Dalam kunjunan kerjanya Kasau dan rombongan diterima Komandan Wing 4 Bogor Kolonel Pnb Tarjoni, Kadisops Lanud Atang Senjaya Kolonel Pnb Suryono Sulian, Dansat Bravo 90 Paskhas Kolonel Psk Novla Mirsyah, dan Perwira Staf lainnya.
Pada kesempatan tersebut Kasau meninjau fasilitas Tower Detasemen Rumpin yang telah selesai dibangun, Markas Satuan Bravo 90, Simulator Tembak 360 derajat dan lapangan Tembak Satuan Bravo 90 Paskhas sekaligus mencoba menembak dengan menggunakan senjata laras pendek jenis Pistol Glock-17 bersama Pejabat  yang mendampingi lainnya.
Disamping itu, Kasau Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menerima paparan Komando dari Dansatbravo 90 Paskhas Kolonel Psk Novla Mirsyah tentang kondisi dibidang operasi, personil maupun logistik dan tugas pokok Satuan.
Kasau mengatakan, Satuan Bravo 90 Paskhas merupakan satuan yang terbaik  yang dibanggakan TNI Angkatan Udara, untuk itu dalam melaksanakan tugas pokok Satuan harus dapat menyiapkan personil, materi, dan peralatan  guna melaksanakan tugas dengan hasil terbaik sehingga Satbravo 90 Paskhas tetap menjadi yang terbaik.

Patriotisme BRIsat di orbit luar angkasa




Patriotisme BRIsat di orbit luar angkasa
Satelit. bataraemas.com
Reporter : Dahlan Iskan | Senin, 5 Mei 2014 05:30
- Dari Tual terbang ke Bali. Dulu jual sekarang beli. Itulah pantun yang tiba-tiba diucapkan seorang tokoh saat berada di dalam lift kantor pusat Bank Rakyat Indonesia ( BRI ).
Hari itu Direktur Utama BRI , Sofyan Basyir, menandatangani kontrak pembelian satelit dari perusahaan Amerika Serikat Space System/Loral, LLC. Satelit itu akan diluncurkan oleh perusahaan Prancis, Arianespace.
Presiden SBY hadir di acara itu meski tidak memberi pidato sambutan. Saya dan Menkominfo Tifatul Sembiring mendampingi beliau. Banyak pertanyaan wartawan setelah itu: Perlukah BRI beli satelit sendiri? Mengapa dilakukan sekarang ketika mau pilpres?
Saya sudah biasa menerima pertanyaan yang menyelidik seperti itu. Jadi jawabannya pun juga sudah di luar kepala.
Yang paling tahu perlu beli satelit sendiri atau tidak tentu manajemen BRI sendiri. "Kalau Indonesia itu seperti Tiongkok atau India, memang tidak perlu," jawab Sofyan Basyir, Dirut BRI . Dua negara itu berupa daratan (mainland). Komunikasinya bisa lewat kabel.
Tapi Indonesia ini berpulau-pulau, jarak dari barat sampai ke timurnya 5.200 km. Jaringan BRI menyebar ke seluruh pelosok dan ke seluruh pulau.
"Kalau BRI sudah puas seperti ini, juga tidak perlu satelit," tambahnya.
Meski BRI sudah menjadi bank yang sangat besar, harus terus berkembang. Besar untuk ukuran Indonesia belum besar untuk ukuran dunia. BRI sudah menjadi micro banking terbesar di dunia. Sistemnya harus benar-benar kuat. Sistem teknologi informasinya harus benar-benar modern.
Masih ada lagi. "Kalau harga satelit itu mahal, juga tidak perlu," kata Sofyan Basyir. Bagi BRI , dengan laba tahun lalu Rp 21,5 triliun, pengadaan satelit ini berada dalam jangkauan kemampuannya. Apalagi pengeluaran rutin untuk komunikasinya sudah mencapai Rp 500 miliar setahun.
"Kalau punya satelit sendiri pengeluaran itu bisa turun menjadi kurang dari Rp 250 miliar setahun. Ada penghematan Rp 250 miliar setahun," ujar Sofyan.
Saya memang menyetujui langkah besar BRI ini. Dengan demikian BRI bisa memberikan pelayanan lebik baik. Bahkan bisa leluasa membuka jaringan di pulau sejauh apa pun dan seterpencil apa pun. Pulau-pulau yang jauh itu tidak lagi jauh secara sistem. Semuanya bisa dikontrol secara tersentral dan real time.
Tapi mengapa dilakukan sekarang? Ketika dekat pilpres? Pertanyaan ini sama sekali tidak relevan. Sebuah korporasi harus tetap bergerak di saat apa pun. Sebelum pilpres atau sesudah pilpres. Korporasi bukan institusi politik dengan siklus politiknya.
Bila kita melakukan sesuatu di hari Senin, akan ditanya mengapa tidak Selasa. Dilakukan Selasa pun pasti akan ditanya mengapa tidak Rabu! Tidak akan ada habis-habisnya.
Saya ingin terus mendorong BRI maju. Mumpung momentumnya tepat. Kadang momentum muncul hanya sekali. Kalau tidak dimanfaatkan bisa lewat begitu saja.
Apalagi pembelian satelit oleh BRI ini mengandung unsur patriotisme dan kebanggaan nasional yang tinggi. Ini bukan pidato tentang patriotisme. Ini langkah nyata.
Kapling orbit satelit ini dulunya milik Indonesia. Jelasnya milik Indosat. Namun ketika Indosat dijual tahun 2002, satelit tersebut ikut terjual. Kapling satelit itulah yang kini "direbut" kembali oleh BRI .
Tidak gampang. Sulit. Sangat sulit. Saya bersyukur usaha yang ruwet itu akhirnya berhasil.
BRI (dan kita semua) sangat berterima kasih kepada Menkominfo Tifatul Sembiring. Beliaulah yang berada di depan untuk berjuang mendapatkan kembali kapling satelit itu. Tentu juga mendapat dukungan penuh Bapak Presiden SBY. Perjuangan satelit ini tidak kalah heroiknya dibanding dengan perjuangan mendapatkan Inalum tahun lalu.
Seandainya perjuangan "merebut" kembali kapling satelit ini tidak sulit, tidak perlu memakan waktu. Pembelian satelit itu pun sudah bisa dilakukan tahun lalu. Bukan menjelang pilpres begini.
Satelit itu nanti diberi nama BRIsat. Akan diluncurkan dari pulau kecil Guyana di pesisir Karibia, Amerika Selatan. Satelitnya sendiri dibuat di AS. Lalu diangkut ke Prancis. Dari Prancis dinaikkan kapal feri ke Guyana, memakan waktu lebih satu bulan. Tergantung cuaca dan gelombang laut.
Setelah diluncurkan dari Guyana, hanya dalam waktu 29 menit BRIsat sudah berada di ketinggian 35.000 km. Dari luar angkasa sana BRIsat bisa meng-cover wilayan seluruh Indonesia, Asia Tenggara, sampai Australia Barat.
Lokasi BRIsat adalah orbit terbaik. Di orbit ini mestinya hanya bisa diisi 360 satelit, karena mereka harus dideretkan di tiap derajat dari 360 derajat keliling bumi. Orbit ini jadi rebutan semua negara.
Saking banyaknya negara yang mengincarnya sampai-sampai kompromi harus dilakukan. Di lokasi yang mestinya diisi 360 satelit itu kini sudah diisi lebih dari 900 satelit! Alangkah padatnya. Alangkah berjejalnya. Betapa penuhnya orbit itu. Satelit dari seluruh dunia.
Itulah sebabnya apa yang dilakukan BRI ini sungguh heroik! Terlambat sedikit lokasi itu bisa jatuh ke negara lain.
Dengan langkah ini pula BRI bisa menarik pulang ahli-ahli satelit kita yang selama ini bekerja di luar negeri. Anak-anak bangsa itu dulunya disekolahkan Pak Habibie ke luar negeri. Lalu tidak pulang karena kondisi ekonomi kita yang terpuruk.
Salah satu di antara mereka adalah Dr Ir Meiditomo Sutyarjoko, MSEE. Dia benar-benar ahli satelit yang dipercaya oleh dunia maju. Suatu hari, dua tahun lalu, Meiditomo liburan ke Jakarta. Dia memperkenalkan diri kepada saya. Meiditomo mengatakan suatu saat nanti Indonesia harus bisa meluncurkan satelitnya sendiri. Dia merasa mampu.
Meiditomo (adik kandung ahli nuklir kita Yudiutomo Imarjoko, Dirut PT Batantek) juga sudah melakukan studi di pantai mana di Indonesia ini yang terbaik untuk tempat peluncuran satelit.
Lokasi itu, kata Meiditomo "terbaik di dunia". Dia lantas menyebutkan nama lokasi yang ternyata sudah pernah saya kunjungi. "Lurus langsung menuju orbit," katanya. Kita punya lokasi peluncuran satelit yang posisinya terbaik di dunia!
Kini ada satu tim ahli satelit bangsa sendiri yang pulang ke Indonesia. Mereka menjadi pegawai Bank BRI . BRIsat memang akan dikelola BRI sendiri. Bukan dikelola, misalnya, anak perusahaan.
"Kami ingin satelit ini tidak pernah dijual," kata Sofyan Basyir. "Kalau dimiliki anak perusahaan bisa-bisa nanti ujung-ujungnya dijual," tambahnya.
Saya dukung sepenuh-penuhnya.

China bakal tingkatkan kerja sama militer dengan Iran

China bakal tingkatkan kerja sama militer dengan Iran
China-Iran. istimewa ©2014 Merdeka.com
 Merdeka.com - Bisa jadi Amerika Serikat dan sekutunya sedikit khawatir. Ini lantaran China menegaskan ingin memperdalam hubungan pertahanan dan militer dengan Iran.

Situs asiaone.com melaporkan, Senin (5/5), Menteri Pertahanan China Chang Wanquan mengatakan hal ini pada Menteri Pertahanan Iran Hussein Dehqan. Selama ini kedua negara masih menjalani hubungan dagang meski Amerika sudah memberikan sanksi ekonomi namun China tak mematuhinya.
Selama ini pula keduanya mempunyai hubungan positif dan stabil. "Kami memutuskan untuk lebih mempererat dan memperkuat angkatan bersenjata dan pelatihan kemiliteran bersama dengan Iran," ujar Chang seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Keduanya menjamin tetap menjaga perdamaian dan stabilitas regional. China juga telah mengekspor senjata ke Iran dan dua bulan lalu pemerintah Ibu Kota Beijing meradang pada Ibu Kota Washington D.C lantaran pengusaha asal negaranya dituding mengadakan suku cadang bagi rudal Negeri Mullah.
[din]

Tim Inspeksi PBB Laksanakan “COE Inspection” Terhadap KRI FKO-368 di Beirut

 Tim Inspeksi PBB Laksanakan “COE Inspection” Terhadap KRI FKO-368 di Beirut
SATGASMTF (5/5),- Sebagai salah satu unit dari  Maritime Task Force (MTF) di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL telah menerima kedatangan Tim Inspeksi dari PBB untuk melaksanakan Contingent Owned Equipment (COE) Inspection. Dalam hal ini, PBB memiliki tanggung jawab untuk meyakinkan bahwa KRI FKO-368 sebagai salah satu unit MTF, telah dilengkapi dengan segala peralatan/perlengkapan serta material lainnya sesuai dengan permintaan dari UNIFIL. Selain daripada itu, PBB juga diberikan kuasa untuk memeriksa status, kondisi dan kuantitas dari peralatan/perlengkapan yang berada di KRI FKO-368, Beirut, Jumat (02/04).
Ini merupakan inspeksi pertama sejak KRI FKO-368 tiba di Beirut dan Inchop pada tanggal 8 April 2014, dimana inspeksi ini akan dilaksanakan secara berkala setiap 3 bulan sekali selama berada dan bergabung dalam MTF. Adapun Tim Inspeksi dari PBB yang datang adalah Mrs. Lazareva Alexandra selaku COE Inspector didampingi salah satu Stafnya yaitu: Mr. Pasquie Bertrand. Inspector dari MAROPS UNIFIL, CDR Sebastian Kruseona (Germany Navy) yang sehari-hari menjabat sebagai Deputy Chief Marops, didampingi oleh LTCDR. Enjin Candemir (Turkey Navy) Marops-PlanJJO, serta Mayor Laut (P) Didik Siswinardi sebagai Staf Pendamping dari Naval Operation Center (NOC).
Letkol Laut (P) Ade Nanno Suwardi selaku Komandan KRI FKO-368 menerima dan menyambut secara langsung Tim Inspeksi dari PBB di Lounge Room Perwira, yang dilanjutkan dengan pelaksanaan inspeksi.
Setelah proses pemeriksaan administrasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan secara fisik terhadap segala peralatan/perlengkapan yang dimaksud dalam check list tersebut di atas.    
Kegiatan COE Inspection ditutup dengan penandatanganan Verification Inspection Worksheet-Letter of Assist oleh COE Inspector, Marops Inspector dan Komandan KRI FKO-368.

Stand Makanan Indobatt Diserbu Pengunjung Multinational Culture and Culinary Festival

 Stand Makanan Indobatt  Diserbu Pengunjung <I>Multinational Culture and Culinary Festival</I>
PUSPEN TNI (5/5),-  Stand makanan yang disediakan oleh Satgas Indobatt menjadi incaran pengunjung yang hadir dalam acara Multinational Culture and Culinary Festival di Aula Sector East HQ UN Position 7-2 Ibil As Saqy, Minggu siang (4/5). 
Antrian para peacekeeper dari berbagai negara sahabat di wilayah Sector East tampak mengular di beberapa stand makanan yang disediakan sejumlah kontingen di wilayah Sector East. Beberapa kontingen yang membuka stand makanan yaitu Indonesia, India, Nepal, El Savador, Serbia dan Spain. 
Di hari festival itu, para tentara yang hadir bergoyang lidah, melahap setiap makanan dan minuman yang tersaji. Dari sejumlah stand makanan yang paling ramai dikunjungi, adalah stand Indobatt yang menyediakan lontong dan sate ayam. 
"Saya senang dan puas kalau pengunjung ternyata senang dengan sate dan lontong yang telah kami sediakan. Sebanyak kurang lebih 800 tusuk sate ayam dan lontong ludes dalam waktu sekejap," ungkap Pasilog Satgas Indobatt XXIII-H Kapten Kal Dedi Apriantoni dan Pa Food Indobatt Lettu Cba (Kowad) Lusy Feriyanti. 
Tidak hanya para prajurit TNI saja yang suka sate ayam, ternyata para tentara dari negara lain pun juga suka makan sate ayam. Seperti yang dilakukan oleh Carricondo salah seorang tentara dari Spainbatt yang tampak sedang mengantri di stand Indobatt. 
Momen seperti ini diakui para peacekeeper yang tengah bertugas di Lebanon merupakan salah satu event yang tepat guna menjalin hubungan dan kerjasama antara prajurit kontingen yang satu dengan prajurit dari kontingen lainnya.

Presiden SBY Terbang Perdana dengan Pesawat Kepresidenan

Senin, 05 Mei 2014

Pesawat Kepresidenan RI
JAKARTA (MI) : Presiden Susilo Bambang Yudhyonono bertolak ke Denpasar, Bali, untuk menghadiri konferensi regional Open Government Partnership (OGP) Asia-Pasifik pada Senin (5/5/2014) siang. Ini merupakan kunjungan kerja pertama Presiden dengan menggunakan pesawat kepresidenan, yang baru saja tiba di Jakarta pada 10 April 2014.

Keberangkatan Presiden tersebut dilakukan seusai menerima kunjungan kehormatan dari Putera Mahkota Brunei Darussalam di Istana Negara. Presiden sempat ditanya wartawan bagaimana rasanya terbang perdana dengan menggunakan pesawat Boeing Business Jet 2 (BBJ-2) itu. "Saya belum bisa jawab karena belum pernah terbang," ujar Presiden yang disambut tawa para menteri dan para wartawan.

Presiden Yudhoyono mengatakan, selama 10 tahun memimpin negara, dia bersyukur akhirnya pemerintah bisa berhemat dengan hadirnya pesawat kepresidenan itu. "Alhamdulillah, enam bulan terakhir bisa menggunakan pesawat yang akhirnya bisa berhemat untuk anggaran kita," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, pesawat yang dibeli seharga Rp 840 miliar itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk presiden yang akan datang. Pesawat baru kepresidenan ini dirancang dengan kelengkapan 4 VVIP class meeting room, 2 VVIP class state room, 12 executive area, dan 44 staff area. Interior pesawat didesain agar dapat mengakomodasi hingga 67 orang penumpang. Jumlah itu disebut cukup untuk sebuah rombongan presiden.

Boeing Business-Jet 2 seri 737-800NG tersebut mampu terbang dengan ketinggian maksimal 41.000 kaki selama 10 jam, memiliki kecepatan jelajah maksimum 0,785 mach dan kecepatan maksimum 0,85 mach. Pesawat ini juga dilengkapi perangkat keamanan dan tangki bahan bakar telah ditambah untuk daya jangkau sampai dengan 10.000 kilometer. Dengan kemampuan itu, pesawat ini lebih dari cukup untuk menjangkau seluruh pelosok Tanah Air dan tugas kepresidenan di negara sahabat. Jenis pesawat ini juga digunakan maskapai penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia.

Selama tiga hari, pesawat ini akan menemani Presiden Yudhoyono bersama rombongan para menteri yang menghadiri konferensi OGP pada 6-7 Mei 2014 di Nusa Dua, Bali. Indonesia merupakan salah satu negara perintis OGP. Tahun ini, Indonesia memperoleh kehormatan sebagai Ketua OGP da Meksiko sebagai co-chair. Negara lain yang menjadi perintis OGP adalah Brasil, Norwegia, Filipina, Afrika Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat. Dibentuk pada September 2011, OGP kini sudah beranggotakan 64 negara