Sabtu, 15 November 2014

Rusia Enggan Transfer Teknologi Ke Indonesia,kenapa??

Alasan utamanya adalah RI Tidak Bisa Borong Alutsista,

“Contohnya India yang borong 80 Sukhoi, kita tidak bisa,” kata Menhan.

Ilsutrasi

JAKARTA:(DM)  - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia meminta Rusia untuk melakukan transfer teknologi atas alutsista yang dibeli. Jika masih tidak bisa dilakukan, RI mengancam akan membeli dari negara lain.

“Justru itu, yang selalu kami minta ke Rusia. Kami mengatakan kepada mereka, apabila tidak bisa transfer of technology (TOT), maka kami akan berpaling ke tempat lain,” ujar Purnomo yang ditemui semalam di Hari Nasional Rusia di Jakarta.

Dia menjelaskan, selain dari Rusia, RI juga mendapatkan tawaran alutsista dari Ukraina dan negara blok timur lainnya. “Dan teknologi yang mereka miliki termasuk bagus,” kata Purnomo.


Ditanya alasan Rusia masih belum mau TOT, Purnomo mengatakan pembelian yang dilakukan harus dalam jumlah besar. Sementara sistem anggaran yang diterapkan oleh RI tidak memungkinkan untuk memborong dalam jumlah banyak.

“Contohnya seperti India yang kemarin memborong 80 pesawat tempur Sukhoi. Nah, kita tidak bisa seperti itu. Apabila semua anggaran hanya dialokasikan untuk membeli alutsista militer bisa repot,” ujar Purnomo.
Hal ini dibantah oleh Duta Besar Republik Federasi Rusia, Mikhail Y. Galuzin. Dia mengatakan masalah ini masih terus dinegosiasikan. “Dari sisi politik, saya melihat tidak ada masalah untuk itu,” ujar Galuzin.

 Apa Kehebatan Tank Amfibi BMP-35 Asal Rusia  

Terus Berjalan


Kendati demikian, Purnomo menyebut kerjasama di bidang pertahanan dengan Rusia terus berjalan.


Terakhir, TNI Angkatan Laut kembali menerima 37 unit kendaraan tempur amfibi tank BMP-3F buatan Rusia pada akhir Januari. Alutsista tersebut diserahkan secara resmi di Jawa Timur.

Dengan adanya 37 tank tersebut, maka kian memperkuat alutsista serupa yang sudah dibeli tahun 2010 silam. Saat itu TNI AL menerima sebanyak 17 unit, sehingga total kini telah terdapat 54 unit tank BMP-3F.
Menurut situs resmi TNI, pengadaan 37 unit kendaraan tempur amfibi untuk AL tersebut memakan dana senilai lebih dari US$100 juta atau Rp1,1 triliun. (ren)

TNI AL Tangkap 15 Nelayan Asing Pencuri Ikan di Natuna





 Sabtu, 15 November 2014
PEKANBARU - Dua kapal nelayan berbendera Thailand dan Malaysia memasuki perairan Natuna, Kepuluan Riau (Kepri) dua hari lalu. Dua kapal asing beserta belasan awaknya kemudian diamankan oleh personel TNI AL yang sedang patroli menggunakan KRI Sutedi Senaputra-378.
"Radar mendeteksi dua buah kapal nelayan asing yang tengah melakukan pencurian ikan. Mengetahui hal itu, komandan KRI segera memerintahkan dua buah kapal tersebut berhenti," kata Kepala Dinas Penerangan Koarmabar, Letkol Laut Ariris Miftachurrahman dalam siaran persnya, Sabtu (15/11/2014).
Kapal pertama berbendera Malaysia bernama MV KNF 7424. Kapal tersebut berisi sembilan anak buah kapal (ABK), di mana enam di antarnya warga Thailand dan lainnya warga negara Myanmar.
Sementara dari kapal berbendera Thailand, diamankan enam ABK. "Kapal berbedera Thailand bernama MV Kour Son 77. Dua ABKnya warga Thailand, tiga warga Myanmar, dan seorang lagi warga Laos," terangnya.
Dua kapal asing itu, sambungnya, saat ini berada di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tarempa guna proses pemeriksaan lebih lanjut.

Angkatan Laut AS Persenjatai Kapalnya dengan Laser



Angkatan Laut AS Persenjatai Kapalnya dengan Laser
Angkatan Laut AS Persenjatai Kapalnya dengan Laser (Foto: Engadget)
 WASHINGTON – Angkatan laut Amerika Serikat (AS) mengungkapkan telah mempersenjatai kapal laut perangnya dengan persenjataan laser. Hal ini, diungkapkan oleh Laksamana Madya, John Miller bahwa kapal perang jenis amfibi AS telah memasuki era masa depan yang canggih.

Seperti dikutip dari Engadget, Sabtu (15/11/2014), armada perang untuk daerah teritorial laut AS, USS Ponce adalah transportasi amfibi yang telah didukung dengan sistem senjata laser yang sekarang beroperasi di wilayah Teluk Persia, sejak akhir Agustus.

USS Ponce adalah armada yang dipersiapkan untuk melawan kapal besar, bahkan angkatan laut AS mengklaim sebagai senjata ideal untuk bertahan melawan armada kapal perang Iran. Ponce dapat otomatis menjalankan dan mematikan persenjataan laser sendiri, dan akan memberika tanda berkedip untuk menakuti musuh atau menggagalkan sensor mereka.

Kapal transportasi jenis amfibi ini sendiri, dipercaya dapat menghancurkan kekuatan kapal kecil dan temasuk jenis kapal udara drone dengan terlebih dahulu mengacaukan sensor yang ada. Kapal musuh akan langsung dihancurkan, jika peringatan tidak dipedulikan musuh.

Namun sayangnya, angkatan laut Amerika tidak menceritakan dengan jelas mengenai kekuatannya di darat, karena USS Ponce sendiri adalah jenis kapal amfibi. Pihak Amerika hanya menjelaskan, Ponce saat ini sedang diujicoba untuk medan dan kondisi teluk yang tidak stabil.