Alasan utamanya adalah RI Tidak Bisa Borong Alutsista,
“Contohnya India yang borong 80 Sukhoi, kita tidak bisa,” kata Menhan.
 |
| Ilsutrasi |
JAKARTA:(DM) - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro
mengatakan Indonesia meminta Rusia untuk melakukan transfer teknologi
atas alutsista yang dibeli. Jika masih tidak bisa dilakukan, RI
mengancam akan membeli dari negara lain.
“Justru itu, yang selalu kami minta ke Rusia. Kami mengatakan kepada
mereka, apabila tidak bisa transfer of technology (TOT), maka kami akan
berpaling ke tempat lain,” ujar Purnomo yang ditemui semalam di Hari
Nasional Rusia di Jakarta.
Dia menjelaskan, selain dari Rusia, RI juga mendapatkan tawaran
alutsista dari Ukraina dan negara blok timur lainnya. “Dan teknologi
yang mereka miliki termasuk bagus,” kata Purnomo.
Ditanya alasan Rusia masih belum mau TOT, Purnomo mengatakan
pembelian yang dilakukan harus dalam jumlah besar. Sementara sistem
anggaran yang diterapkan oleh RI tidak memungkinkan untuk memborong
dalam jumlah banyak.
“Contohnya seperti India yang kemarin memborong 80 pesawat tempur
Sukhoi. Nah, kita tidak bisa seperti itu. Apabila semua anggaran hanya
dialokasikan untuk membeli alutsista militer bisa repot,” ujar Purnomo.
Hal ini dibantah oleh Duta Besar Republik Federasi Rusia, Mikhail Y.
Galuzin. Dia mengatakan masalah ini masih terus dinegosiasikan. “Dari sisi politik, saya melihat tidak ada masalah untuk itu,” ujar Galuzin.

Kendati demikian, Purnomo menyebut kerjasama di bidang pertahanan dengan Rusia terus berjalan.
Terakhir, TNI Angkatan Laut kembali menerima 37 unit kendaraan tempur
amfibi tank BMP-3F buatan Rusia pada akhir Januari. Alutsista tersebut
diserahkan secara resmi di Jawa Timur.
Dengan adanya 37 tank tersebut, maka kian memperkuat alutsista serupa
yang sudah dibeli tahun 2010 silam. Saat itu TNI AL menerima sebanyak
17 unit, sehingga total kini telah terdapat 54 unit tank BMP-3F.
Menurut situs resmi TNI, pengadaan 37 unit kendaraan tempur amfibi
untuk AL tersebut memakan dana senilai lebih dari US$100 juta atau Rp1,1
triliun. (ren)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar